My dad used to say, “Money isn’t the problem; the lack of it is.” And it’s true: money doesn’t buy you happiness, but not having enough of it can be a pain. And the level of pain varies, depending on your situation.

Kristin Wong

Bukan–semata-mata–salah anak jika dewasa ia menjadi orang yang malas, tak pandai memasak, atau tak tau membantu orang tua. Tetapi salah orang tua (juga), kenapa tak mengajari anak dari kecil, tak mengajak dan mengajari anak memasak, dan tak pernah mengajari anak untuk membantu orang tua.

Tahun-tahun berjalan meninggalkan mereka yang cacat terdiam.
Tahun-tahun berjalan bersama mereka yang belajar berjalan.
Aku berlari, dalam mimpi. Sekali terbangun dan menangis.

Rindu Mentari

Selimut malam menutup langit.
Cahaya hilang gelap menggigit.
Di balik tembok di ruang sempit.
Tubuh kecil ku diguyur rindu menggigil.

Senyum tawamu di dinding pajangan.
Mengikat ku di sini dengan kenangan.
Lembut tingkahmu dalam ingatan.
Sesakkan aku dalam pikiran.

Aku tak tahan lagi.
Pada pilihanmu bertahan pergi.
Kau putus janji robohkan mimpi.
Tinggalkan kenangan tetap di sini.

Memohon berlalu malam berharap pagi.
Menahan rintih merindu mentari.
Bergetar bibir berdoa pagi kembali.
Menawar rindu pada mentari yang telah pergi.

Kasih, bolehkah aku berharap lagi?
Setelah kau berlalu pergi?
Kasih, ku tunggu kau di teras pagi.
Kembalilah bersama mentari.


*Puisi sebelumnya dipublikasikan di buku ontologi puisi "Sajak-Sajak Rindu"

Uang Belajar

A: Gimana usaha kamu?

B: Gagal.

A: Terus gimana?

B: Ya… rugi belasan juta. Tapi setidaknya dapat pelajaranlah. Minimal nanti kalau mau mulai lagi bisa lebih baik.

A: Oh… jadi uang belajar kamu belasan juta?

B: Maskudnya?

A: Kamu kuliah belajar ga?

B: Belajar.

A: Bayar ga?

B: Bayar.

A: Terus kamu mulai usaha belajar dan keluarin uang namanya apa?

B: Ya… uang belajar.

Apa Masih Butuh Blog?

Apa–hari ini–masih butuh membuat blog sendiri? Setelah tersedia begitu banyak layanan yang lebih baik dari pada harus membuat sesuatu (blog) yang belum tentu orang lihat.

Ingin berbagi opini? Ada Facebook page. Status singkat, ada Twitter. Photo? Ada Instagram. Video? Ada YouTube. Atau berbagi puisi, cerita, atau karya sastra lain? Ada Wattpad. Oh… atau hanya ingin membuat online bio atau resume? Juga ada about.me untuk membuat online bio.

Jadi apa masih perlu–repot-repot–membuat blog pribadi? Yang belum tentu ada yang baca dibandingkan dengan media sosial yang dengan mudah bisa membantu kita berbagi apapun dengan teman-teman kita?

…here's what I've learned. Have fun, obviously. Whenever possible, find someone to save, and save them. Lick the ones you love. Don't get all sad-faced about what happened and scrunchy-faced about what could. Just be here now.

Bailey, A Dog's Purpose (2017)

Idul Adha di Cirebon

Perjalanan ke Cirebon

Beberapa foto yang diambil dalam perjalan dari Bandung ke Cirebon tadi pagi.

Yang membuat Amazon berbeda dengan Microsoft adalah Amazon tetap mempertahakan karakteristik perusahaan startup–seperti pada awal berdirinya–yang terbuka dengan inovasi, fokus pada pengembangan bisnis dan penemuan produk-produk atau jasa baru perusahaan. Sedangkan Microsoft fokus pada bagaimana terus meningkatakan keuntungan dari produk/jasa saat ini (cash cow).

Kelemahannya, Microsoft sangat bergantung pada satu (atau beberapa) produk–yang sudah/hampir mature–yang dalam jangaka panjangan berdapak negatif bagi kelangsungan perusahaan. Sedangkan Amazon yang fokus pada pengembangan (inovasi) produk-produk baru, harus rela mengambil resiko dengan menginvestasikan keuntungan utuk riset dan pengembangan produk-produk baru. Namun dalam jangka panjangan, hal ini memiliki dampak yang baik bagi perusahaan karena perusahaan tidak hanya bergantung pada satu atau beberapa produk saja.

Mengulang

“Kamu 2014 bukan?”

“Iya, Pak. 2014”

“Belum lulus atau baru ngambil?”

“Mengulang, Pak. Kemarin tidak lulus”

“Kenapa tidak lulus? Coba cerita, biar adek-adek mu dengar.”

“Ee…, Anu Pak…ee…”

“Kenapa? Cerita saja, biar adek-adek mu dengar.”

“Saya tidak bisa mengerjakan soal ujian, Pak.”

“Kamu malas (belajar) kali?”

“Iya Pak, saya malas.”

Pak Hardi terdiam, ia tak tahu harus berkata apa lagi.