Rindu Mentari

Selimut malam menutup langit.
Cahaya hilang gelap menggigit.
Di balik tembok di ruang sempit.
Tubuh kecil ku diguyur rindu menggigil.

Senyum tawamu di dinding pajangan.
Mengikat ku di sini dengan kenangan.
Lembut tingkahmu dalam ingatan.
Sesakkan aku dalam pikiran.

Aku tak tahan lagi.
Pada pilihanmu bertahan pergi.
Kau putus janji robohkan mimpi.
Tinggalkan kenangan tetap di sini.

Memohon berlalu malam berharap pagi.
Menahan rintih merindu mentari.
Bergetar bibir berdoa pagi kembali.
Menawar rindu pada mentari yang telah pergi.

Kasih, bolehkah aku berharap lagi?
Setelah kau berlalu pergi?
Kasih, ku tunggu kau di teras pagi.
Kembalilah bersama mentari.


*Puisi sebelumnya dipublikasikan di buku ontologi puisi "Sajak-Sajak Rindu"

Uang Belajar

A: Gimana usaha kamu?

B: Gagal.

A: Terus gimana?

B: Ya… rugi belasan juta. Tapi setidaknya dapat pelajaranlah. Minimal nanti kalau mau mulai lagi bisa lebih baik.

A: Oh… jadi uang belajar kamu belasan juta?

B: Maskudnya?

A: Kamu kuliah belajar ga?

B: Belajar.

A: Bayar ga?

B: Bayar.

A: Terus kamu mulai usaha belajar dan keluarin uang namanya apa?

B: Ya… uang belajar.

Apa Masih Butuh Blog?

Apa–hari ini–masih butuh membuat blog sendiri? Setelah tersedia begitu banyak layanan yang lebih baik dari pada harus membuat sesuatu (blog) yang belum tentu orang lihat.

Ingin berbagi opini? Ada Facebook page. Status singkat, ada Twitter. Photo? Ada Instagram. Video? Ada YouTube. Atau berbagi puisi, cerita, atau karya sastra lain? Ada Wattpad. Oh… atau hanya ingin membuat online bio atau resume? Juga ada about.me untuk membuat online bio.

Jadi apa masih perlu–repot-repot–membuat blog pribadi? Yang belum tentu ada yang baca dibandingkan dengan media sosial yang dengan mudah bisa membantu kita berbagi apapun dengan teman-teman kita?

Idul Adha di Cirebon

Perjalanan ke Cirebon

Beberapa foto yang diambil dalam perjalan dari Bandung ke Cirebon tadi pagi.

Yang membuat Amazon berbeda dengan Microsoft adalah Amazon tetap mempertahakan karakteristik perusahaan startup–seperti pada awal berdirinya–yang terbuka dengan inovasi, fokus pada pengembangan bisnis dan penemuan produk-produk atau jasa baru perusahaan. Sedangkan Microsoft fokus pada bagaimana terus meningkatakan keuntungan dari produk/jasa saat ini (cash cow).

Kelemahannya, Microsoft sangat bergantung pada satu (atau beberapa) produk–yang sudah/hampir mature–yang dalam jangaka panjangan berdapak negatif bagi kelangsungan perusahaan. Sedangkan Amazon yang fokus pada pengembangan (inovasi) produk-produk baru, harus rela mengambil resiko dengan menginvestasikan keuntungan utuk riset dan pengembangan produk-produk baru. Namun dalam jangka panjangan, hal ini memiliki dampak yang baik bagi perusahaan karena perusahaan tidak hanya bergantung pada satu atau beberapa produk saja.

Mengulang

“Kamu 2014 bukan?”

“Iya, Pak. 2014”

“Belum lulus atau baru ngambil?”

“Mengulang, Pak. Kemarin tidak lulus”

“Kenapa tidak lulus? Coba cerita, biar adek-adek mu dengar.”

“Ee…, Anu Pak…ee…”

“Kenapa? Cerita saja, biar adek-adek mu dengar.”

“Saya tidak bisa mengerjakan soal ujian, Pak.”

“Kamu malas (belajar) kali?”

“Iya Pak, saya malas.”

Pak Hardi terdiam, ia tak tahu harus berkata apa lagi.

Aplikasi Android Favorit 2017

Enam aplikasi android favorit saya hingga Agustus 2017 ini.

  1. Pocket
    Aplikasi “read it later” terbaik. Termasuk aplikasi pilihan editor di Play Store. Dengan aplikasi ini kamu bisa langsung menyimpan artikel dari browser, twitter, dll. ke Pocket dan membacanya nanti. Selain bisa dibaca offline, Pocket juga memberikan tampilan artikel yang simple tanpa iklan disana-sini. Jadi kamu bisa lebih fokus membaca. Ada juga fitur text to speech-nya, yang kalaukamu sedang malas membaca kamu bisa menggunakannya.
  2. Google Keep
    Aplikasi note dan to do list yang simple dari Google. Memiliki aplikasi desktop dan dapat diakses via website. Sangat sederhana dan mudah diakses dari perangkat apapun. Selain fitur remider, Google Keep juga memiliki fitur voice note dan drawing, yang memungkinkan pengguna untuk membuat catatan hanya dengan merekam suara dan membuat sketsa.
  3. Snapseed
    Jika kamu salah satu pengguna aktif Instagram atau sering melakukan editing foto, maka aplikasi ini wajib kamu coba. Snapseed merupakan aplikasi editing foto dari Google.
  4. IFTTT
    IFTTT yang merupakan singkatan dari if this then that, merupakan aplikasi automasi untuk banyak hal. Misalnya, jika kamu memiliki beberapa akun media sosial, seperti Instagram, Twitter, dan Facebook, dengan menggunakan IFTTT kamu tidak perlu membuat postingan untuk semua akun tersebut, cukup mengatur agar setiap anda membuat postingan di salah satu media sosial anda, postingan tersebut akan otomatis di posting di media sosial lain. Ada banyak fungsi lain yang bisa dilakukan IFTTT, silahkan explore dan pelajari sendiri.
  5. Pinterest
    Anda sedang mencari ide? Aplikasi ini bisa jadi jawabannya. Aplikasi Pinterest ini seperti papan informasi dimana kamu bisa menempelkan apapun yang kamu temukan di saat browsing di internet.
  6. Quora
    Quora merupakan aplikasi tanya jawab dimana kamu bisa mengikuti topik atau tokoh tertentu. Berbeda dengan Yahoo Answer yang terkesan kebanyakan jawabannya asal jawab, di Quora, ada banyak expert yang memang ahli dibidang tersebut yang memberikan jawaban. Sayangnya, pertanyaan dan jawabannya masih dalam bahasa Inggris.

Malam beku, dingin berbintang. Sepiring brownies, bergelas kopi menjadi teman. Sepi, sendiri mengenang umur. Sesal tumbuh kian menjamur.

Lembar-lembar mimpi yang tertulis, kembali ku buka. Mimpi dan harap yang kian terkikis, coba ku jaga. Semangat, jangan menyerah!

Calon Ketua OSIS

“Pilih saya jadi ketua OSIS nanti ya.” Kata Andi kepada teman-temannya di kantin. Andi sangat yakin akan menjadi perwakilan kelas dan berkesempatan menjadi calon ketua OSIS setelah mendapatkan informasi dari seorang guru bahwa ia bisa menjadi wakil kelasnya pada pemilihan ketua OSIS.

Hari H pemilihan ketua OSIS, wali kelas Andi tidak menunjuk Andi sebagai perwakilan kelas. Jangankan menjadi calon ketua OSIS, kesempatan Andi sebagai pemilih pun hilang karena ini. Andi begitu kecewa.

“Mana yang katanya mau jadi ketua OSIS?” Kata teman Andi.

“Iya, padahal saya sudah siap memilih lo.” Teman lainnya menimpali dengan sedikit tertawa.

Andi hanya diam, sedikit tersenyum kemudian berlalu dari kantin.

Puisi Sampah

Tak semua puisi dapat kau baca.
Hanya mereka yang tak berakhir di tempat sampah.

Karena ada kata terbesit lalu menghilang.
Ada yang berbisik lalu pergi melenggang.
Ada yang ditulis kemudian dicoret.
Dan ada yang jadi kemudian dirobek.

Dan puisi ini.
Yang sedang kau baca ini.
Aku bangga meski bagimu sampah.
Setidaknya ia berbentuk sudah.

Banyak yang tanya tips untuk menulis (puisi) di Instagram. Jawaban saya selalu sama, saya (juga) masih belajar, jadi saya tak perlu takut (puisi) yang saya buat salah atau kurang. Namanya juga belajar, kalau kurang ya wajar.

Dan kalau mau hasilnya bagus, buat saja yang banyak. Semakin banyak yang kamu buat, akan semakin besar kemungkinan ada satu atau dua karya yang bagus dari sekian banyak karya yang kamu buat. Jadi tak usah menunggu inspirasi, buat saja yang banyak, nanti juga ada satu yang layak. Hitung-hitung latihan.

(Mungkin) Tak Perlu Izin

“Saya ingin meminta izin untuk keluar bersama Rani, Tante. Berkunjung ke rumah teman.” Pinta Tono.

Ibu Rani tidak menjawab. Ia diam, sejenak berpikir lalu memalingkan pandangan ke Rani. “Minta izin ke Ayah mu saja.” Katanya pada Rani kemudian.

Tono mengerti, ia yang dari tadi duduk di samping Ibu Rani kemudian berdiri dan pindah ke samping Rani. “Jadi bagaimana?”

“Tunggu Ayah ku saja.”

Hampir berselang jam, Ayah Rani akhirnya datang dan langsung masuk ke kamar untuk mengganti baju. Beberapa menit kemudian, beberapa teman Ayah Rani juga datang bertamu.

“Silahkan duduk.” Ibu Rani mempersilahkan.

Ayah Rani kemudian ke luar dan langsung berbincang dengan tamunya. Tono dan Rani yang tadi ingin meminta izin takut mengganggu dan akhirnya hanya bisa menunggu.

Sudah sejam lebih Tono dan Rani menunggu. Ayah Rani masih sibuk berbincang dengan teman-temannya dan belum membuka percakapan dengan Tono. Ibu Rani yang ikut berbincang tak sekalipun menyinggung masalah permintaan Tono dan Rani untuk keluar bersama.

“Saya pamit dulu, Om, Tante.”

Rani berdiri dan mengantar Tono ke luar pintu. “Maaf ya….”

“Tidak apa-apa, mungkin lain kali kita tak perlu meminta izin.”

You think that the only way to lead a meaningful life, is for everyone to remember you. For everyone to love you! Guess what, Gus – this is your life! This is all you get! You get me, and you get your family and you get this world, and that’s it! And if that’s not enough for you, then I’m sorry, but its not nothing.

Hazel Grace Lancaster, The Fault in Our Stars (2014)

Kesalahan Kebanyakan Pelaku UMKM

Satu hal yang selalu saya tanyakan jika berbincang dengan pelaku usaha adalah “berapa keuntungan yang mereka dapatkan dari usaha itu?”.

Beberapa pelaku usaha bisa menjawab dengan baik, mengetahui jumlah modal, pengeluaran, dan pendapatan dengan baik. Tetapi beberapa yang lain ada juga yang menjawab tidak tau. Mereka tidak tau sudah berapa jumlah modal yang dikeluarkan untuk usahanya, berapa pengeluaran usahanya, dan berapa jumlah penjualannya. Bahkan, beberapa pelaku usaha tidak membedakan antara uang pribadi dan uang usahanya.

Kesalahan pertama kebanyakan pelaku usaha adalah mereka menggabungkan keuangan pribadi dan keuangan usaha, serta tidak memiliki catatan keuangan untuk usahanya. Sehingga akan sulit bagi pelaku usaha untuk mengetahui untung atau tidaknya usaha.

Kesalahan kedua kebanyakan pelaku usaha adalah mereka tidak menggaji diri mereka sendiri. Kebanyakan pelaku usaha rumahan yang saya temui tidak menggaji diri mereka sendiri. Mereka hanya berharap dari keuntungan yang didapatkan dari usaha yang dijalankannya. Padahal, untuk dapat tumbuh, usaha harus dapat mempertimbangkan biaya pegawai (terutama yang langsung atau yang melakukan produksi), agar memudahkan proses perekrutan tenaga baru nantinya tanpa merubah komponen biaya yang ada.